Ketika Barat Selatan Melepas Rindu Persiraja  
Rahmat Djailani, duduk paling kanan.

Catatan Sekum Persiraja, Rahmat Djailani

Ketika Barat Selatan Melepas Rindu Persiraja  

Sepak bola dan politik seperti Hubunganku dengan Fidel Castro, Sangat dekat. (Diego Armando Maradona)

***

Pagi menyeruak. Matahari mulai menampakkan diri. Jam menunjukkan pukul 07.10 WIB. Iring-iringan kendaraan mulai meninggalkan kota Banda Aceh. Melaju menuju Pantai Barat Aceh. Tak kurang dari 10 mobil ditambah dua bus sedang, berjalan beringan menembus jalanan yang mulai dipadati orang-orang dengan aktivitas sendiri.

Meski terlihat masih mengantuk, para pemain Persiraja tetap bersemangat. Setelah menghabiskan lontong dan nasi gurih merekapun kembali ceria -yang bisa dilihat dari setiap obrolan dan candaan selama perjalanan.

 Ini tour Persiraja ketiga. Setelah menyelesaikan pertandingan di Aceh Besar dan Aceh Jaya, Tour kali ini menuju Pantai Barat, Aceh Barat Daya dan Aceh Barat. Ada rindu yang bersemayam di sana. Ada harapan besar masyarakat Abdya dan Aceh Barat untuk kehadiran Persiraja, dan hari ini rindu itu akan dituntaskan.

 H. Nazaruddin Dek Gam selaku Presiden Persiraja menjadwalkan lima pertandingan di Abdya dan Aceh Barat, dua di Abdya dan tiga di Aceh Barat. Ini bukan sekedar pertandingan persahabatan biasa, tapi tujuan utama kita adalah silaturahmi dan mencari bibit-bibit baru pesepak bola Aceh yang nanti akan berguna, baik untuk Persiraja maupun untuk Aceh secara keseluruhan, karena melahirkan pesepak bola terbaik Aceh juga menjadi tanggung jawab Persiraja, pesan Dek Gam kala itu.

Jam 16.25 tiba di perbatasan Nagan Raya dan Aceh Barat Daya. Panitia Abdya menyambut Persiraja di perbatasan. Arak-arakan kemudian dilakukan. Maka berkelilinglah Abdya dengan arak-arakan.

“Ini bukan hanya soal sepak bola, tapi soal bagaimana menyambut saudara, apalagi Persiraja, dan ini adalah kehormatan bagi warga Abdya,” Redha Yos Paradian Ketua Panitia di Abdya. Komandan RYS ini adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap “nasib” Persiraja selama berada di Abdya.

Lawan pertama Persiraja di Abdya adalah Persada. Tim Liga 3 Indonesia ini sudah mempersiapkan diri dengan baik. Buktinya Persiraja kewalahan. Skor akhir adalah 2-1 untuk kemenangan Persiraja. Tapi ini bukan soal kalah menang. Sambutan masyarakat Abdya pada pertandingan pertama ini luar biasa. Lapangan dipenuhi ribuan orang. Sungguh sambutan yang membuat pemain Persiraja seperti bermain di Lampineung.

Persada sendiri diketuai oleh Romy Syahputra, Wakil Ketua DPRK Abdya dan juga Ketua Partai Demokrat Abdya, sementara Presiden Persiraja sendiri H. Nazaruddin Dek Gam mencalonkan diri untuk DPRRI dari Partai Amanat Nasional. Tidak ada sekat politik di sana. Tidak ada amarah yang dilahirkan dalam dendam politik. Semua berjalan seperti keluarga, seperti sahabat, bahkan Romy Syahputra menjamu Presiden Persiraja bersama pemain dan seluruh rombongan di rumahnya.

Sepak bola menghilangkan semua sekat politik. Memisahkan politik dari sepak bola adalah bukan hal yang bijak, tapi mengelola politik untuk mendukung sepak bola adalah jalan keluar untuk kebangkitan sepak bola di Indonesia. Bukankah Silvio Berlusconi pernah “Menggunakan” AC Milan untuk maju sebagai Perdana Mentri Italia?

Cukup soal politik. Pertandingan selanjutnya adalah melawan Manggeng Raya, di lapangan Seneulop. Dijamu air kelapa sebelum pertandingan dan sambutan ribuan penonton di Manggeng membuat Pemain Persiraja lengah. Terbukti Persiraja tidak mampu mengalahkan Manggeng Raya. Skor Akhir 0-0.

Tuntas sudah di Abdya. Dua pertandingan, untuk menuntaskan kerinduan kepada skuat lantak laju. Perjalanan selanjutnya adalah Aceh Barat. Ditunggu tiga pertandingan. Sambutan dan Antuasiasme masyarakat Abdya menghilangkan semua lelah.

Di Aceh barat sendiri semua pertandingan dimenangkan Persiraja. Melawan Perkasa Kuala Bhe 4-0, melawan Kaway XVI Raya 3-0 dan melawan Persura Suak Raya 2-1. Ribuan orang memadati lapangan dalam setiap pertandingan, bukan hanya sekedar mencari hiburan akan tetapi juga memberikan dukungan kepada Persiraja. Para pemain Persiraja sampai kewalahan melayani ajakan berswafoto.

Dari tiga pertandingan di Aceh barat, tim seleksi pemain Persiraja memutuskan untuk mengajak empat orang pemain untuk ikut seleksi Persiraja. Mereka adalah talenta-talenta muda Aceh Barat yang bisa memunculkan potensi yang lebih baik.

Tour pantai Baratpun selesai. Persiraja merasa sangat terhormat mendapat sambutan yang penuh kemuliaan. Sampai ketemu di kemudian hari. Terima kasih Abdya, Terima kasih Aceh Barat.[]

Leave Comment

Loading...