Pertama (lagi) untuk Zikra dan Kuba
Pemain Persiraja, Nurul Zikra (tengah) dalam laga debutnya di Ciamis.

Catatan Sekum Persiraja, Rahmat Djailani

Pertama (lagi) untuk Zikra dan Kuba

“Pemain pertama yang turun, Kuba Penjaga Gawang, dua centre back Komol dan Andika, Back Kiri Zikra, Back Kanan Awani, terus ditengah Nakata dan Zamrony, Kiri Defri, Kanan Acil Dua Didepan Torres dan Andre”.

Itu adalah kalimat yang diucapkan Hendri Susilo, Pelatih Kepala Persiraja ketika briefing taktik di ruang ganti Stadion Galuh Ciamis, Jawa Barat. Sore itu Persiraja akan menghadapi tuan rumah PSGC Ciamis dengan materi yang timpang, dikarenakan full back kiri dan kanan yang pada tiga pertandingan sebelumnya diisi oleh Aliyah Alfuad dan Agus Suhendra harus absen karena cedera. Belum lagi ancaman akumulasi kartu yang menghantui Irfan Yunus Mofu dan Luis Irsandi.

Sekalipun belum pernah menang, PSGC Ciamis tentu saja tidak boleh dianggap enteng, karena secara materi dan persiapan PSGC juga sangat baik, pun mereka bermain di rumah sendiri Stadion Galuh Ciamis yang rumputnya mirip-mirip Stadion Gueseape Meazza milik Internazionale Milano. Bahkan tim promosi dari Liga Tiga ini melakukan gebrakan di bursa transfer dengan mendatangkan pemain naturalisasi Bio Paulin, serta pemain rekutan dari Liga 1 lainnya.

Catatan kali ini saya maksudkan bukan untuk menuliskan betapa heroiknya para pemain Persiraja ketika melawan PSGC Ciamis yang terus berusaha untuk menang sampai peluit akhir dibunyikan, karena memang terbukti heroik, buktinya sempat kalah 2-1 pada babak pertama bisa membalikkan keadaan 3-2 di akhir pertandingan. Akan tetapi catatan kali ini saya tuliskan dengan maksud untuk mengulik kira-kira apa yang dirasakan oleh kedua pemain ini; Nurul Zikra dan Fahrurazi Kuba.

Fahrurazi atau biasa yang dipanggil Kuba sudah melakukan debutnya sebagai pemain Persiraja pada pertandingan pertama Liga 2 Tahun 2019, ketika Persiraja berhadapan dengan tuan rumah Persibat Batang pada pekan pertama. Sekalipun persiraja kalah 1-0 pada pertandingan tersebut, akan tetapi pada pertandingan itu Kuba sangat menjanjikan untuk musim Persiraja tahun ini.

Kuba adalah eks kiper Semen Padang. Pada masa kejayaannya, Kuba tidak pernah tergeser di bawah mistar Semen Padang FC ketika Semen Padang mengarungi Liga Super Indonesia (Liga 1 sekarang). Terakhir Kuba berada di bawah mistar Semen Padang FC adalah tahun 2016 sebelum dia jatuh sakit dan harus istirahat total selama hampir tiga tahun.

Semua orang mengira karir profesional Kuba sudah tamat. Tidak pernah terbayangkan bahwa Kuba akan kembali berada pada level terbaik dan kembali menjadi pemain Profesional Liga Indonesia, sekalipun Liga 2. Hanya keyakinannya sendiri dan sahabatnya Fery Komol yang selalu yakin dan percaya bahwa karir Kuba belum selesai, bahwa Kuba belum tamat, dan pada empat pertandingan itu Kuba mulai membuktikan bahwa “lon mantong na” (saya masih ada).


Si Anak Hilang Nurul Zikra

Zikra pasti berfikir bahwa dia tidak akan dengan cepat bisa menjadi starter di Persiraja musim 2019 ini. Bayangkan, empat tahun tidak berada di level profesional, bahkan sudah menjadi pemain amatair, sehingga untuk mendaftarkan Zikra sebagai pemainnya musim 2019 Persiraja harus melakukan alih status Zikra dari pemain amatir menjadi pemain Profesional.

Diuntungkan dengan cederanya Agus Suhendra dan Aliyah Alfuat, Zikra pada sore itu di Ciamis diturunkan sebagai pemain pertama. Kembali masuk dalam starting eleven adalah lompatan yang tinggi dalam karir Zikra, mengingat entah dimana Zikra di tahun-tahun sebelumnya. Sekalipun Nurul Zikra Pernah menjadi idola publik Lampineung pada tahun 2015-2016, akan tetapi kembalinya Zikra di Starting Eleven menimbulkan pertanyaan banyak pihak, termasuk saya sendiri. Apalagi posisi aslinya adalah sayap kiri, bukan Full Back Kiri.

Saya tidak tau persis apa yang ada di benak Hendri Susilo dan tim Pelatih Persiraja ketika menurunkan Zikra dari awal, tapi kepercayaan tim pelatih benar-benar dimanfaatkan Zikra dengan baik. Zikra bermain apik dalam mengawal sektor kiri Persiraja, walaupun di awal-awal agak kewalahan, tapi kemudian Zikra mulai menunjukkan lagi bahwa “Zikra is Back”.

Tentu saja tulisan ini bukan untuk menafikan perjuangan dan kerja keras pemain dan seluruh unsur tim. Bahkan Presiden Persiraja H. Nazaruddin Dek Gam menempuh perjalanan darat sepuluh jam dengan menyetir sendiri dari Jakarta ke Ciamis hanya untuk memberikan dukungan langsung kepada para pemainnya. Adaptasi Kuba dan Zikra sudah pasti sangat terbantu oleh keikhlasan dan kerja keras pemain lain dan tentu hasil baik sejauh ini adalah hasil bagi semua pihak termasuk kit man, fans, suporter, dan seluruh pendukung Persiraja.

Stadion Galuh Ciamis menjadi saksi betapa Hendri Susilo percaya pada kemampuan anak asuhnya, dan Zikra adalah salah satu buktinya. Bisa saja Hendri tidak punya pilihan Back Kiri lain, tapi menurunkan pemain yang sudah empat tahun menghilang dari dunia Profesional sejak dari awal adalah salah satu resiko yang besar, tapi Hendri dan tim pelatih membuktikan bahwa pilihan mereka tepat.

Membuat keputusan demikian mungkin tidak sulit bagi Hendri Susilo, bisa saja lebih sulit dari melafalkan nama Ikhwani sehingga terlalu tersebut Awani….

"Awani, Geser kekiri……."
"Come on Boys….."
Suara Hendri Susilo dari pinggir lapangan.

Leave Comment

Loading...