Kita Sekarang di Liga 1

Catatan Sekum Persiraja

Kita Sekarang di Liga 1

FAJAR mulai menyingsing. Perlahahan matahari mulai mempelihatkan diri. Pertanda hari baru akan dimulai lagi. Seperti biasa menjelang perjalanan away, skuat Persiraja selalu berangkat subuh. Setelah menunaikan kewajiban dua rakaat, dan semua penumpang masuk, Pesawat Lion Air dengan Nomor Penerbangan JT 397 mengudara dari Bandara Internasional Iskandar Muda.

Dua malam sebelumnya, hampir tiga puluh ribu pasang mata memadati Stadion Harapan Bangsa. Rindu Liga 1 ini bukan hanya dirasakan oleh para pemain, official dan sang presiden, akan tetapi juga oleh rakyat Aceh, dan malam bersejarah itu di hadapan tiga puluh ribu pasang mata, Persiraja seolah-olah mendeklarasikan diri; Kita Liga 1 Sekarang.

Setelah berhasil menahan imbang tim bertabur bintang Bhayangkara FC di Stadion Harapan Bangsa, kini saatnya Persiraja melakukan Away dua pertandingan, dan ini bukan away biasa. Ini Away Liga 1. Away yang sudah ditunggu 12 tahun lalu oleh pendukung dan suporter Persiraja. Away bersejarah ini bertepatan dengan hari Jumat 6 Maret 2020. Dua pertandingan akan dilakoni, melawan tim bertabur bintang lainnya, Madura United dan pemilik satu kali Juara Liga Indonesia, Persik Kediri.

Perasaan saya campur aduk, antara bahagia dan takut. Bahagia tentu saja perasaan yang lumrah karena Persiraja berada di Liga 1, level tertinggi sepak bola Indonesia. Sementara perasaan takut juga karena khawatir Persiraja akan menjadi bulan-bulanan tim Madura United, mengingat pada pekan pertama Madura United berhasil membantai Barito Putera 4-0.

Sebagai tim promosi tentu saja Persiraja sangat tidak diperhitungkan di kompetisi Liga Indonesia tahun ini, banyak faktor seperti pemain yang belum berpengalaman sampai persoalan persiapan yang terlalu mepet. Apalagi Persiraja mendapatkan porsi yang sangat kecil dalam pemberitaan nasional. Media nasional kurang menarik memberitakan Persiraja, terutama media online, dan tentu saja hal ini mungkin disebabkan oleh rendahnya pembaca berita Persiraja. Sederhananya, Persiraja bukanlah tim yang menarik.

“Di atas kertas kita memang tidak diperhitungkan, dan mereka lupa bahwa sepak bola tidak main di atas kertas, tapi di atas lapangan, dan di lapangan kita buktikan siapa Persiraja,” ujar Presiden Persiraja, H. Nazaruddin Dek Gam menjelang pertandingan Persiraja melawan Sriwijaya FC dalam perebutan satu tiket promosi ke Liga 1 di Bali November 2019.

Sang presiden benar. Kalimatnya mampu membakar semangat pemain. Persiraja menang lawan Sriwijaya ketika itu dan promosi ke Liga 1. Di Liga 1, dua pertandingan awal Persiraja langsung dihadapkan dengan tim calon juara, Bhayangkara FC dan Madura United. Menterengnya line up kedua tim sedikitpun tidak membuat Persiraja gentar, dan benar, sepak bola tidak dimainkan di atas kertas, akan tetapi di lapangaan, dan di dua pertandingan awal itu Persiraja berhasil memberi sinyal; kami memang siap ke Liga 1.

Menahan imbang Madura United di kandangnya adalah hal yang berat untuk dilakukan. Akan tetapi sore ini hal itu bisa dilakukan, “tidak ada yang tidak mungkin dalam sepak bola,” kata Hendri Susilo, Arsitek Persiraja.

Terlalu dini memang kalau mengatakan bahwa Persiraja sudah menjadi tim yang bagus. Terlalu cepat kalau harus disimpulkan bahwa Persiraja akan berbuat banyak di Liga Indonesia tahun 2020 ini. Tapi percayalah, kita tidak pernah berhenti berusaha. Kita tidak berhenti bekerja keras, dan Persiraja saat ini sudah berada di jalur yang tepat untuk terus berusaha dan bekerja keras.

***

Stadion Gelora Madura Ratu Pamalingan Pamekasan tidak terlalu penuh. Tiga kelompok suporter Madura United terus bernyanyi, memberikan semangat kepada pemain Madura United. Hujan tidak juga berhenti. Persiraja di bawah tekanan. Gempuran bertubi-tubi terus digencarkan. Waktu pertandingan menujukkan menit ke 85.

“Nakata,” seru Hendri.
“Kamu masuk, gantikan Vanderlei, main yang tenang di lini tengah, jangan ngawur dan jangan terlalu liar,” perintah Hendri. Dan, laki-laki yang sudah memberikan hidupnya 15 tahun ini untuk Persiraja masuk menggantikan Vanderlei.

Saya terbayang perjuangannya 12 tahun menaikkan Persiraja ke Liga 1. Saya membayangkan bagaimana dia tetap konsisten dan menjadi kapten pada masa-masa sulit Persiraja, tanpa gaji bahkan makanpun beli sendiri. Hari ini dia menikmati perjuangannya. Walapun bermain cuma lima menit, tapi dia benar-benar bisa merasakan aroma Liga 1. Dia adalah Muhklis Nakata, kapten kita. []

Leave Comment

Loading...