Bang, dron Presiden Persiraja -Nyoe?
Presiden Persiraja, Nazaruddin Dek Gam

Catatan Sekum Persiraja

Bang, dron Presiden Persiraja -Nyoe?

HUJAN baru saja berhenti. Waktu sudah menunjukkan Pukul 18.50 WIB. Hari sudah mulai gelap. Senja sedang menari-menari bersama matahari yang sebentar lagi tidak akan tampak lagi. Sebentar lagi Azan Magrib berkumandang. Tapi kami masih di sini, di kota para ulama Labuhan Haji, tepatnya di Gampong Pisang Aceh Selatan. Bersama H. Nazaruddin Dek Gam, Presiden Persiraja yang juga Caleg DPR RI, bersilahturahmi, mengunjungi saudara dan bercerita tentang membangun masa depan bersama.

 Allahu Akbar

Allahu Akbar

 Allahu Akbar

Allahu Akbar

 

Baru bicara sebentar, azan magrib berkumandang. Semua pembicaraan dihentikan. “Kita shalat dulu, di meunasah itu,” kata Dek Gam dalam bahasa Aceh. Tanpa komando lagi, rombongan kami yang berjumlah 12 orang bergegas menuju meunasah yang terletak di tengah-tengah kampung tersebut.

 Seusai menunaikan kewajiban tiga raka’at kami kembali. Rumah bang Boy. Saya tidak tau nama lengkapnya. Lupa saya tanya. Sekilas dia seperti orang Portugal, karena perawakannya yang putih dan rambutnya pirang khas orang-orang Eropa. Bang Boy masih saudara sepupunya Dek Gam, asli Lamno. Tinggal di Labuhan Haji kurang lebih hampir 15 tahun setelah mempersunting salah satu gadis Gampong Pisang. Bang Boy, bahkan sudah menjadi salah satu perangkat desa di kampung tersebut.

 Ditemani kopi panas dan gorengan pisang, Bang Boy bercerita banyak tentang bagaimana gampong itu menjalankan Syari’at Islam. Maulid, membangun dayah, meunasah dsb. Kami manut saja, sebagai orang yang sering mendampingi Dek Gam, saya selalu melihat keseriusannya ketika sedang berbicara soal penegakan dan pelaksanaan syari’at. “Agama tanyo, menyo kon tanyo yang pekong so chit peukong. (Agama kita kalau bukan kita yang perkuat siapa juga yang lain),” jawabnya di sela-sela pembicaraan.

 “Meuyo komitmen peukong Agama, Insya Allah, han meugese meubacut pih, kon meunan bang boy?. (Kalau komitmen memperkuat agama Insya Allah kita tidak akan bergeser sedikitpun, bukan begitu Bang Boy?)” Sambung Dek Gam setengah bertanya, yang langsung diamini sama Bang Boy.

 Di ruang tamu yang asri dan nyaman, kami mengobrol hampir tiga puluh menit, sampai menjelang Isya. Mengingat akan ada pertemuan satu lagi di Blang Pidie, kami memutuskan akan shalat Isya di Blang Pidie, karena jarak Labuhan Haji-Blang Pidie kurang lebih 30 menit. Mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah atas jamuan kopi dan pisang goreng dan berjalan kaki menuju mobil kurang lebih 20 meter.

 Di persimpangan sebelum menaiki mobil kami dicegat oleh sekitar 10an anak muda yang sepertinya berasal dari kampung tersebut. Suasana gelap. Cahaya lampu hanya remang-remang berasal dari rumah sekitar.  Terus terang nyali saya sempat ciut, mengingat mungkin kami melakukan kampanye tanpa seizin dari mereka, walaupun kami hanya mengunjungi keluarga di situ.

 “Bang, dron Presiden Persiraja nyo?. (Abang Presiden persiraja ya?),” tanya salah seorang pemuda itu membuka pembicaraan.

 Mendengar pertanyaan itu keberanian saya langsung memuncak kembali. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya di tempat yang jauh dari Banda Aceh ini, ada sekelompok anak muda yang rela menunggu kami untuk menanyakan hal tersebut.

 “Nyo, Pakon?. (Ya, Kenapa?),” tanya Dek Gam balik.

 “Bang, Kamo pendukung setia Persiraja, semenjak bak jaroe dron Persiraja kembali bangkit, dan kamo tupeu dron caleg DPR RI, adak hana neu yu pileh dan hana neu jok sapeu kamo tetap pileh dron, karena kamo cinta keu Persiraja. (Kami pendukung setia Persiraja, Semenjak di tangan abang Persiraja kembali bangkit, dan kami tau abang Caleg DPR RI, kalaupun tidak disuruh pilih dan tidak dikasih apa-apa kami tetap akan pilih abang, karena cinta sama Persiraja),” ujar pemuda itu melanjutkan.

 “Kalinyo keh dalam Persiraja na pemerataan, na awak Barat Selatan terutama Aceh Selatan dalam Persiraja bang, kamo bangga that keu dron dan keu Persiraja. (Kali inilah dalam Persiraja ada pemerataan, ada orang Barat Selatan terutama Aceh Selatan dalam Persiraja, kami bangga sekali sama Abang dan Persiraja),” sambungnya tanpa henti.

 “Lon sangat berterima kasih atas dukungan awak dron, dan tanyoe hansep sampe di sino, thonnyo tanyo harus kembali ke Liga 1, jadi harus tadukung sama-sama. (Saya sangat berterima kasih atas dukungan kalian, dan kita tidak boleh hanya sampai disini. Kita harus kembali ke Liga 1, jadi harus kita dukung sama-sama),” jawab Dek Gam.

 Pembicaraan itu berlangsung kurang lebih 5 menit. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kecintaan mereka kepada Persiraja. Mungkin inilah saya 10 tahun yang lalu. Ketika masih menjadi pendukung setia Persiraja, yang rela tidak makan siang agar dapat beli tiket untuk menonton Abdul Musawir dkk bertanding di Stadion Lampineung.

 Harapan para pemuda Gampong Pisang Labuhan Haji ini bisa jadi harapan sebagian besar anak-anak muda di Aceh. Ada kebanggaan ketika tim kesayangan mereka kembali bisa menunjukkan jati dirinya sebagai martabat dan harga diri Aceh. Bagi mereka, sepak bola dan Persiraja bukan sekedar hobi, akan tetapi hasrat dan kebanggaan.

 “Terimong Geunaseh bang, senang that kamo metemeng mat jaro ngen Presiden Persiraja, biasa kamo kalon dalam koran. (Terima kasih bang, senang sekali kami bisa berjabat tangan dengan Presiden Persiraja, biasanya kami lihat di koran),” ujar pemuda tersebut sambil mengantar kami naik kemobil.

 Mobil kami pun mulai melaju menuju Blang Pidie. Hujan kembali turun. Beberapa meunasah yang kami lewati mulai bersiap-siap melaksanakan shalat Isya. Cuaca begitu dingin. Saya tidak berhenti memikirkan para pemuda tadi. Dalam kedinginan, saya bisa merasakan kehangatan yang besar. Ada harapan dan ketulusan yang mereka tunjukkan, dan malam ini nun jauh dari markasnya di Banda Aceh, Persiraja benar-benar memberikan harapan kepada banyak orang, kepada anak-anak muda yang tidak pernah berhenti percaya bahwa Aceh juga bisa, bahwa Persiraja juga bisa, dan saya yakin Dek Gam juga tau, bahwa dia tidak akan mengecewakan rakyat Aceh yang mencintainya dan mencintai Persiraja.

 “We Are The Champion, My friend”, Freddy Mercury berteriak dari audio yang diputarkan Opan dari mobil kami, dan mobil terus melaju menuju Blang Pidie untuk mengawal harapan-harapan lainnya.

 

Blang Pidie, 11 Januari 2019

Leave Comment

Loading...